Bahasa Indonesia

1930-helemaalPembantu kapal laut

Sekitar tahun 1900, semakin banyak wanita Indonesia yang bekerja sebagai pembantu di kapal laut. Mereka bertugas sebagai pengasuh anak pada keluarga Eropa yang melakukan perjalanan kapal laut antara Hindia Belanda dan Belanda. Pekerjaan ini berkembang pesat pada tahun 1920 hingga menjadi profesi dengan permintaan tinggi dan bayaran yang bagus. Di antara perjalanan kapal laut, mereka sering tinggal di rumah singgah “Persinggahan“, Den Haag, yang didirikan pada 1918 untuk para pembantu rumah tangga dari Indonesia. Jumlah mereka semakin banyak hingga rumah singgah tersebut ditutup pada 1948. Diduga seluruhnya berjumlah beberapa ribu orang wanita.

Betapa pun berbedanya pembantu kapal laut ini dari segi asal dan gaya hidup, namun terutama berkat “Persinggahan” mereka bertemu sebagai wanita pekerja. Selain itu, berkat hubungan dengan sesamanya, mereka memiliki kekuatan dan pengetahuan untuk memperjuangkan diri dari eksploitasi tenaga kerja yang dilakukan orang Belanda. Mereka menegosiasikan gaji, membentuk serikat dan jaringan atau bergabung dengan organisasi lain. Dengan demikian mereka dapat merasakan emansipasi. Mereka sering menjadi teladan yang mengilhami generasi selanjutnya. Setelah pekerjaan berakhir, mereka kembali ke Indonesia dengan kondisi ekonomi yang acap kali mandiri.

Buku Een huis vol zeebaboe’s berisi sejarah yang belum pernah diuraikan sebelumnya tetang kelompok wanita pekerja Indonesia luar biasa ini di sebuah rumah singgah Belanda. (Terbitan tahun 2018 tersebut)

Makna buku ini
Berbagai generasi pembantu di kapal laut menjadi cincin penghubung antara Indonesia dan Belanda. Para pengasuh anak-anak inilah, yang menyuguhkan karakter Indonesia dalam keluarga dan budaya Belanda, sekaligus membawa pengalaman mereka dari Belanda ke Indonesia. Mereka menyesuaikan diri namun tetap menjaga kepribadian sebagai orang Indonesia seutuhnya.
Dalam sudut pandang sosial-sejarah, monografi ini memberikan kontribusi unik pada pemahaman tentang sebagian besar kehidupan ‘pekerja rumah tangga’ yang sejauh ini tak terungkap di daerah kolonial Belanda. Monografi tersebut berfungsi sebagai jendela di masa kini. Dalam kehidupan para pembantu kapal laut ini, pengembangan diri, nasionalisme yang tumbuh pesat, dan kepentingan kolonial berpadu dalam cara yang unik.

Anak cucu
Sejumlah pembantu kapal laut menetap di Belanda, namun sebagian besar kembali ke Indonesia. Seharusnya masih ada kenangan akan nenek moyang mereka yang luar biasa ini. Saya sedang mencarinya kini, sehingga berkat Anda saya dapat menuliskan buku yang menakjubkan dan seimbang. Apakah Anda mungkin memiliki foto, surat atau mengetahui sesuatu dari masa itu? Terima kasih banyak atas perhatian Anda.